Tentu masih ingat tentang Pemazmur yang mengatakan bahwa anak-anak kita bagai anak panah di tangan pahlawan? MAz 127 : 3-5
Saking kita ingin mengasahnya kadang kita secara tidak sadar bukan sedang mengasah anak panah, namun sedang membuat panah turbo yang bisa melesat cepat.
Pertemuan orang tua SBI 2/10/2009, Ibu Hilda P. menanyakan apakah Anak sebagai Beban? atau sebagai Berkat? Selanjutnya apakah harapan kita bagi anak-anak kita?
Dari pembicaraan kelompok kelas Aubie beberapa jawaban muncul; bahwa anak bukan merupakan Beban, anak adalah berkat;dimana berkat muncul karena anak dapat menjadi pengikat dalam kesatuan keluarga, anak dapat menghibur sehingga menjadi stress realease orang tua (ups..),anak menjadi pemberi semangat. Namun ketika kita masuk kepada harapan-harapan pada anak kita masuk pada banyak harapan-harapan baik bagi si anak anak yang mandiri, sukses, berkarakter kristiani,sehat,mengasihi Tuhan,orang tua dan sesama, berprestasi,dan hal-hal baik lainnya.
Bila dibandingkan antara anak sebagai berkat dan harapan kita terhadap anak, wuiss….pasti banyak harapan kita pada anak. So, apakah salah memiliki harapan tinggi bagi anak-anak kita? For sure, no..ndak ada yang salah lah, sah-sah saja kalau kita menginginkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Terutama dalam hal pendidikan, kita mau anak kita memiliki pendidikan yang terbaik untuk masa depannya nanti.
Seperti aku saat ini, aku sedang mencari-cari lembaga pendidikan yang cocok untuk anakku. Aubie akan masuk Sekolah Dasar tahun depan. Aku sendiri baru tersadar setelah kemarin di Warta Jemaat Gereja ada pengumuman pendaftaran sekolah Internasional X. Emnnn,… iseng-iseng aku telepon dong ke sekolah tersebut dan aku mendapati hal yang membuat aku banyak terkaget-kaget;
yang pertama: waktu sekolah Senin – Jumat dari jam 7.30 – 12.45 (hello, anak saya kelas 1 bu? iya Bu kelas 1 SD sampai jam 1 kurang 15,kalo kelas 3 sampai 14.25? ha????)
yang kedua: sekolah menggunakan kurikulum Cambrige,penggunaan bahasa Inggris 100%.(ok, jadi nggak ada bahasa indonesia nih Bu? dijawab: enggak..(lah die sendiri pake bahasa apa hayo???))
yang ketiga: Ekstrakurikuler bermacam-macam diantaranya berenang dan musik,semua fasilitasnya ada di sini (ini mau jualan fasilitas sekolah apa?)
yang terakhir : admission feenya: ….jt, kalo ibu daftar sekarang dapet early bird …jt (bener-bener kaya jualan properties….kalo DP sekarang disc. 10%).Untuk angkanya aku nggak terlalu kaget, karena memang sudah mendengar dari beberapa sumber.
Yang membuat aku agak pesimis karena awalnya aku berharap sekolah ini yang nota bene berlandaskan agama akan menyatakan bahwa anak didiknya akan memiliki karakter yang kuat dengan pembinaan karakter yang memadai dalam menghadapi pelajaran yang ada. Aku ndak terlalu mengedepankan Ilmu Pasti sebagai sesuatu yang lebih unggul dari Ilmu Sosial. Pembelajaran itu tidak hanya ilmu pengetahuan kan?
So, pendidikan saat ini sudah sangat komersil ya; dan semua sekolah sedang berlomba-lomba menyatakan fasilitasnya paling hebat, anak-anak muridnya juara olimpiade,dijamin bisa matematika,bisa ilmu-ilmu eksakta, bisa bahasa inggris, bahasa mandarin dari tulisan biasa sampe tulisan kanji.Jangan sampe aja anaknya mati gaya yah.
Tapi nggak ada semut kalo nggak ada gula, maksudnya sah-sah juga lembaga pendidikan menyajikan gula-gula manisnya kalo memang banyak juga orang tua yang menginginkan hal-hal seperti itulah yang di dapat anaknya.Seperti bulan yang lalu pertemuan orang tua murid, TK TarQ menghadirkan guru-guru dari SD TarQ untuk menjelaskan program-program di SD. Aku bingung aja dengan pertanyaan ibu-ibu; apakah ada bahasa Inggris? Bahasa Mandarin? Komputer? sampe ada yang memberi usul anak-anak TKnya di beri tambahan pelajaran saja supaya lulus TK semua sudah lancar membaca dan menulis.Ah, ngerti nggak sih nih orang tua kalo waktu bagi anak-anak saat ini adalah BERMAIN…. Halo…kasihan banget pasti anaknya ibu ini.
Belum lagi di sekolahnya Aubie; beberapa anak nggak cukup ikutan ekstrakurikuler melukis di hari senin, di hari selasa dia ikutan nari, di hari rabu dia ikutan kumon bahasa inggris, di hari kamis les baca tulis, di hari jumat dia ikutan les jarimatika.Wow, kita bicara anak TK B umur 5 tahun. Apa nggak cape ya anaknya? Seperti tadi di tempat les musiknya Aubie ada parents meeting, jadi pertemuan antara guru dan orang tua. Ada 1 ibu yang sangat semangat, sehingga 1 buku itu semua sudah di ajarin ke anaknya. Ibu itu bingung anaknya kok nggak mau main di kelas, padahal di rumah 1 buku itu sudah bisa semua…Waduh,anak gw aja belum lancar-lancar banget tangan kanannya untuk 3 lagu die dah 1 buku (>6 lagu).Tanggepan gurunya santai banget: Ya iyalah bu, anaknya dah bosen. kan sekarang ini baru 1/3 pelajaran, kita masih ada sampe Januari,ibu udah kasih satu buku….(tuing***<>?&^%$$).
Yah itulah sekedar gambaran, bagaimana kita selalu mengharapkan anak-anak kita menjadi yang terdepan, selalu ada usaha dibalik harapan. Dan bila harapan yang banyak dan besar itu ada di kepala kita;secara tidak sadar kita akan memaksa diri kita untuk meraih harapan tersebut; yang artinya kita memaksa anak kita untuk memenuhi harapan kita tersebut.
Kembali di pertemuan orang tua murid kemarin Ibu Hilda menyatakan bahwa ada penelitian untuk anak-anak yang orang tuanya telah menyiapkan semua fasilitas bagi anak, seperti kurang waktu untuk berbagi dengan TV, Play Station dan HP.Maka anak tersebut ada kecenderungan anak memiliki OVER CONFIDENCE sehingga anak tidak bisa berbagi dengan orang lain dan anak-anak ini akan kurang memiliki SELF CONTROL, SELF ESTEEM dan keramah tamahan.Terakhir aku diingatkan untuk mengharapkan anak mendapatkan BERKAT TUHAN yang melimpah, menjadi anak-anak yang BERHARGA DIMATA TUHAN,dan MENJADI BERKAT bagi orang lain
Jadi bagaimana mencapainya?
1. Kita harus yakin dan pasti dengan apa yang kita inginkan pada anak kita
2.Membiarkan Kasih mengalir dalam perjalanan menuju hal itu.
SO, ANAK PANAH TURBO???
Hope Not…
=-=